Turut berkontribusi Cegah Corona, Difabel Bekasi Produksi Masker Kain

Turut berkontribusi Cegah Corona, Difabel Bekasi Produksi Masker Kain

BEKASI - Dunia digemparkan dengan Pandemi Covid-19 atau Coronavirus di berbagai negara, termasuk  Indonesia.  Hal ini menimbulkan kepanikan, kekhawatiran, bahkan ketakutan  masyarakat, di sisi lain, penyebaran virus tersebut bagitu cepat dan semakin meluas. 

Berbagai ajakan dan arahan untuk mencegah penyebaran virus Covid – 19 pun massif dilakukan berbagai pihak. Salah satunya, dengan  kebijakan sosial distancing atau pembatasan aktivitas sosial yang menimbulkan kerumunan banyak orang.

Kebijakan sosial distancing yang kemudian diikuti dengan ajakan untuk tetap diam di rumah tentu berdampak luas pada masyarakat. Tak terkecuali pada masyarakat difabel. Seperti yang terjadi pada “Rumah Singgah Disabilitas Mandiri Bekasi (KUBEPENDA),” yang beralamat Bojong menteng RT 1 RW 2 no 37, Rawa Lumbu Kota Bekasi. 

Rumah Singgah tersebut berdiri dari tahun 2007, dan sudah mendidik kurang lebih 60 orang. Mereka  sudah mandiri dengan usaha sendiri. Saat ini rumah singgah tersebut punya 20 orang difabel sebagai warga binaan, perempuan tujuh orang, laki-laki tujuh orang, dan anak-anak enam orang yang masih sekolah.

“Akhir-akhir ini setelah adanya wabah covid-19 kami kebingunan, karena empat Gerai atau warung kami tidak bisa beroperasi/berjualan. Padahal kami sudah membagi tugas ada yang jualan makanan khas jawa (peca\el), ada juga jajanan buatan anak-anak binaan berupa kripik pisang, singkong dan kue-kue makanan ringan yang biasa dijual di car free day”. Cerita Paini, pendiri rumah singgah difabel Bekasi tersebut.  

Ia berkisah bahwa sebelum wabah corona, rumah singgah tersebut tiap hari bisa menghasilkan omzet kurang lebih 2-3 juta Rupiah dari hasil menjual berbagai produk, termasuk jahitan. 

“Sekarang kami tidak bisa menghasilkan apa-apa kalau hanya dirumah saja, sedangkan kebutuhan makan minum tiap hari harus tersedia,  itu yang menjadi tantang bagi kami harus putar otak biar dapur selalu berasap untuk menyiapkan makan minum tiap hari” keluhnya pada solider melalui pesan singkat WhatsApp.

Di tengah kebingunan, putri Paini yang bekerja di salah satu bank minta dibuatkan masker untuk teman-taman kerjanya di bank, “Dari situlah ide untuk buat masker muncul, dan kami buat secara otodidak untuk mencoba desain serta jahit”.

Paini bersyukur karena latar belakang sebagai penjahit bermanfaat di situasi seperti ini. Selain itu, rumah singgah tersebut juga kebetulan memiliki peralatan yang memadai untuk produksi masker. 

“Kami punya beberapa peralatan mesin jahit, pertama kami coba buat 100 pieces, setelah itu banyak permintaan, akhirnya kami banting setir memutuskan untuk memproduksi masker. APD tersebut kami pasarkan secara online. respons masyarakat cukup bagus, kami banjir pesanan. Semua yang kerja membuat masker adalah  difabel anak-anak binaan kami, sampai pada pengantaran pesanann itu mereka yang antar langsung. Saya sangat bersyukur pada Allah," tutur ibu Paini pendiri rumah singgah.

Apa yang dilakukan oleh rumah singgah tersebut cukup bermanfaat bagi masyarakat luas. Lebih-lebih baru-baru ini pemerintah pusat mengeluarkan instruksi kepada seluruh warga negara untuk selalu mengenakan masker jika keluar rumah. 

Namun disisi lain, keberadaan masker masih sulit didapatkan. Entah karena tingginya permintaan sehingga produsen merasa kuwalahan, atau ada permainan lain.  

Fenomena tersebut menimbulkan inisiatif berbagai pihak untuk membuat masker dengan tujuan agar masyarakat dapat terhindar dari virus yang cukup membahayakan.  

Pesanan masker secara terus-menerus juga berdatangan antara lain Rumah Sakit Al Fauzan Jakarta (donatur), Bulan Sabit Merah Indonesia, Bengkel AOTU PAM Bekasi, Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Anak (DPPA) Kota Bekasi, majelis-majelis taklim dan relawan lainnya. 

Lebih mengejutkan lagi ada pesanan dari  Amerika. Salah satu teman Paini bersuamikan orang Amerika. Mereka  minta dibuatkan  2000 pieces masker dengan berbagai fariasi model buatan rumah singgah tersebut. Saat ini, pesanan tersebut sedang dalam tahap pengrjaannya.

Rumah singgaah disabilitas mandiri (KUBEPENDA) tersebut menjahit masker dengan berbagai fariasi model, sehingga banyak yang tertarik dan berminat. Masker buatan mereka sangat berkualitas. Hal ini karena berbahan dasar kain katun dan juga dapat di cuci sehingga bisa dipakai berulang-ulang.

Selain memproduksi dan masker sebagai APD untuk pencegahan Covid – 19, Paini dan anak binaannya juga membagikan masker buatan mereka kepada tetangga secara gratis, bahkan menyerakan pada ketua RT setempat untuk membagikan masker karya mereka kepada warga di sekitar RT tesebut.   

Apa yang dilakukan oleh Rumah Singgah Difabel Mandiri Bekasi, atau Komunitas Usaha Bersama Penyandang Disabilitas (KUBEPENDA) patut diapresiasi. Mereka tidak mau berpangku tangan di rumah saja dikarenakan dengan kebijakan Social Distancing saat ini. 

Selain melakukan pemberdayaan difabel untuk dapat tetap menyambung hidup. Inisiatif membuat masker kain tersebut merupakan upaya rumah singgah tersebut untuk turut berkontribusi mencegah Covid – 19 dan menjawab kelangkaan APD yang saat ini meresahkan masyarakat.  

Dukungan dan apresiasi juga datang dari Dr Prita Kusumaningsih, SpOG dari RS Al Fauzan Jakarta. Bendahara Umum Dewan Pengurus Nasional Bulan Sabit Merah Indonesia ini mengenal Paini dan binaannya sudah 10 tahun. 

Menurut Prita, di tengah Virus Corona atau Covid-19 melanda di negeri ini, ia mendengar anak binaan KUBEPENDA berubah haluan dengan membuat masker bahkan bisa dijual. Menurut Prita hal ini ide yang cerdas. 

Pertama, produksi masker kain menjadi solusi dari kelangkaan masker medis karena diborong oleh masyarakat umum. Sehingga  kalangan tenaga kesehatan kesulitan untuk  melengkapi Alat Pelindung Diri, dimana mereka harus berhaapan dengan para ODP maupun PDP yang mungkin saja menyembunyikan riwayat penyakit. Padahal, masyarakat awam sudah cukup dengan mengenakan masker kain. 

Kedua, produksi masker kain dapat menghidupkan perekonomian di tengah kelesuan akibat social distancing yang bagaimanapun memang diperlukan untuk memutus mata rantai  penularan Covid-19. 

"Alhamdulilah saya dan kerabat juga bersedia menyumbang stok kain untuk dibuat masker, dan ada juga kenalan seorang pengusaha sprei yang bersedia menjual kain sisa spreinya secara kiloan dengan harga murah," ujar dia.

Sumber: Solider.id