Pesan Toleransi di Balik Khitanan Massal

Pesan Toleransi di Balik Khitanan Massal

Rahma Abdul Qadir Djaelani

Rahma berjuang agar konflik antarumat beragama tak kembali terjadi di Kupang.

Buat saya, toleransi memang bukan hal yang baru. Kakek saya datang dari garis ibu dulunya beragama Kristen. Alkisah,  kakekku ja tuh cinta kepada putri keturunan sa lah satu raja di Flores, Ibrahim Es dasi yang beragama Islam. Kakek nekad untuk mende kati putri raja itu. Tradisi di keluarga kerajaan tidak membiarkan lelaki itu membawa pergi putri raja begitu saja. Dia pun mengucap syahadat agar cintanya bisa tercapai.

Begitu pula kakek saya dari garis ayah. Dia  merupakan seorang Protestan yang menikah dengan Muslim. Akhirnya, kakek  menjadi mualaf. Kakek tidak pernah memutus tali silaturahim meski sudah berbeda agama. Hingga kini, banyak keluarga besar saya dari garis kakek  yang beragama Nasrani. Me reka saling mengunjungi ketika Natal dan Idul Fitri tiba. Uniknya, istri kakek yang kedua merupakan mualaf dari Rote. Sampai sekarang saya punya om dan tante banyak yang Nasrani.

Meski demikian, hangatnya to leransi di keluarga kami sem pat terusik saat kerusuhan 1998 silam. Ketika itu, saya  ba ru du duk di bangku kelas IV SD. Saya masih ingat betul suara lon ceng dan tiang listrik berlomba ber den ta ngan. Bebunyian itu meng hentak disusul dengan suara tembakan dan api yang menjalar. Ke tika itu, saya berada di dalam ru mah di Batu Putih, Kupang. Se mua simbol Muslim kita aman kan. Ketegangan kian menjadi saat ada orang memasang tanda palang persis di depan rumah saya. Rupanya, itu adalah tanda yang dituliskan tetangga agar keluar kami selamat dari para perusuh tak dikenal. 

Ayah saya pun ikut bergerak cepat. Dia membuat tan da palang merah di dahi saya dan saudara-saudara saya. Semua simbol Islam disembunyikan. Ketika situasi mulai tenang, ayah saya mengirim kami sekeluarga ke gubuk di tengah sawah yang agak jauh dari kota. Ayah mengutus paman untuk mendampingi kami selama perjalanan. Ayah yang juga  memang me rupakan imam masjid di Batu Pu tih lantas berinisatif un tuk menjaga masjid. Kami begitu mengkhawatirkan keselamatan beliau. (Bersambung) 

“Buku ini membawa pesan yang sangat penting tentang manfaat besar dari rasa ikhlas. Isinya menggambarkan perjuangan para relawan yang terus bekerja meski tanpa disorot kamera. Spirit kemanusiaan yang penuh keikhlasan ini menjadi teladan bagi kita semua.” 

Irfan Junaidi

Pemimpin Redaksi Republika

Buku yang berisi 19 kisah ini sangat menarik dan menggugah untuk dibaca. Bahkan, tanpa terasa air mata menitik. Para relawan itu tidak hanya berupaya menolong dan menyelamatkan nyawa para korban di daerah konflik dan bencana. Bahkan, tak jarang mereka pun harus menyabung nyawa untuk melaksanakan tugas-tugas kemanusiaan.”

Irwan Kelana

Wartawan/Sastrawan

“Ini bukan sekadar buku. Tetapi merupakan pembelajaran yang sangat berharga bagaimana ketulusan dan semangat yang didasari nilai-nilai kemanusiaan. Dengan adanya relawan, kami di Lombok Utara tidak merasa sendiri.” 

H Najmul Akhyar

Bupati Lombok Utara

Kisah di atas adalah pengalaman nyata relawan BSMI di tanah Kupang. Menjadi minoritas di Provinsi Nusa Tenggara Timur mengasah jiwa Rahma tentang makna toleransi sebenarnya. Baca kisah lengkapnya di buku Jejak Kisah Relawan Kemanusiaan (Sebuah Antologi Relawan Kemanusiaan di Daerah Bencana dan Konflik). Info lebih lanjut hubungi Bima (Call/WA 081283153775).