Antara Al Aqsha dan Kiev, Timpangnya Sorot Media

Antara Al Aqsha dan Kiev, Timpangnya Sorot Media

Oleh Hafidz Muftisany (Staf Humas DPN BSMI)

Perang dan konflik selalu menyisakan duka kemanusiaan. Apapun konflik itu. Hari-hari ini dunia begitu memberikan fokus terhadap gejolak antara Ukraina dan Rusia. Bahwa konflik dua negara ini menimbulkan korban sipil baik di pihak Ukraina maupun Rusia adalah sesuatu yang kita sayangkan. 

Tapi tahukah kita bahwa pada saat yang sama terjadi penyerangan oleh pasukan keamanan Israel terhadap jemaah Palestina di Masjid Al-Aqsa saat merayakan Isra Mi'raj, Senin (28/2/2022). Saat itu, 14 warga Palestina terluka termasuk seorang anak, dan empat orang dibawa ke rumah sakit akibat tindakan keras pasukan Israel. 

Video yang dibagikan oleh warga Palestina di media sosial menunjukkan pasukan Israel melemparkan gas air mata dan granat kejut ke kerumunan jemaah walau terdapat banyak anak dan bayi, lalu memicu kepanikan. 

Apa yang terjadi di Al Aqsa sudah berlangsung puluhan tahun. Agresi dan invasi negara bentukan bernama Israel hampir setiap hari merampas hak kemerdekaan masyarakat Palestina. Tidak hanya di Tepi Barat tapi juga Gaza. Ya setiap hari. Sebab selama kemerdekaan masyarakat Palestina di atas tanah mereka sendiri dikekang, maka setiap hari selama itu pula terjadi perampasan paksa hak kemerdekaan seorang manusia. 

Tapi kita tahu dan terang benderang kenapa media-media yang didominasi media barat selalu tidak memberikan spotlight terhadap agresi di Israel. Spotlight besar-besaran tanpa henti terjadi dalam konflik Rusia-Ukraina.

Bukan hanya spotlight. Tapi juga kesan ketidakadilan cenderung mengarah ke 'rasisme' kerap terjadi dalam laporan-laporan media. 

Penyebutan frasa "The people... have blue eyes and blonde hair... look like us", kemudian "This isn't a place, with all due respect, like Iraq or Afghanistan" lalu memakai diksi  "“Ini (Ukraina) relatif beradab, relatif Eropa—saya harus memilih kata-kata ini dengan hati-hati—kota yang mana kamu tidak akan menduga (perang) akan terjadi, atau berharap bahwa itu (perang) akan terjadi.”

Padahal apa subtansi perbedaan warna kulit dan tempat tinggal geografis dalam keunggulan seorang manusia. Hakikatnya mereka adalah manusia. Lahir dari sepasang ayah dan ibu. Anak-anak ini tidak pernah bisa meminta tempat dimana ia dilahirkan, warna kulit apa yang akan ia miliki, apakah di Eropa atau di Asia.

Kebebasan hak sipil yang terus digaungkan Eropa, yang saat ini merasa sebagai 'penguasa dunia' menjadikan standar-standar Eropa menjadi standar dunia. Bangsa Eropa 'dianggap' sebagai bangsa yang unggul sebab kini mereka menjadi penguasa dunia. 

Mata bangsa Indonesia yang terus tertuju ke Palestina akan selalu tertuju ke Palestina. Sebab sudah ada dalam ruh kita bangsa kita selalu bersama bangsa-bangsa yang terjajah di atas dunia hingga ia dihapuskan. 

Anak-anak Palestina setiap hari juga menjalani ketakutan. Sebab zionis tak lagi memandang bulu apakah dia sipil, wanita atau anak-anak, semua berpeluang ditangkap, dijebloskan ke penjara tanpa tuduhan yang nyata di hadapan hukum. Bagaimana mereka akan menegakkan hukum, jika hukum yang paling mendasar: penghormataan atas hak-hak seorang manusia mereka abai. 

Biarlah media-media 'dunia' meneropong tajam apa yang terjadi di Ukraina-Rusia. Kita sebagai manusia tentu berempati terhadap korban sipil. Sebab kita juga mempraktikkan empati kita kepada Palestina, berpuluh-puluh tahun. Tetap suarakan apa yang terjadi di Masjidil Aqsha. Sebab kita kelak akan bisa bersaksi di hadapan pengadilan Allah SWT, apa yang sudah kita perbuat untuk Masjidil Aqsha ?