Kerja-kerja Relawan Muda Indonesia di Turki

by bsmi / 20 Feb, 2023

Catatan Harian Tim Aju BSMI Turki

Saya berangkat menuju Turki bersama Sekretaris Jenderal BSMI Muhamad Rudi yang juga Ketua Tim Aju BSMI untuk Gempa Turki Suriah dan Redaktur Pelaksana Liputan6.com Andry Haryanto. 

Terbang dari Bandara Soekarno Hatta pada Kamis (16/2/2022) dini hari, sempat transit sebentar di Doha akhirnya kami sampai di Bandara Istanbul pada Kamis (16/2/2022) pukul 12.30 waktu setempat. Total 16 jam perjalann. 

Berangkat dari Jakarta kami berbarengan teman-teman relawan SAR dari komunitas driver ojek online (Ojol). Mereka juga mengutus tiga personil dengan fokus membantu pencarian korban. 

Subhanallah, lintas profesi bergerak dan berbuat untuk saudara yang nun jauh secara fisik namun amat dekat secara kemanusiaan.Kami berpisah di Doha, perjalanan beda kota dan tujuan. Meski satu misi, misi kemanusiaan. 

Sesampainya di Istanbul kami sudah disambut anak-anak muda Indonesia yang amat bersemangat. Satu namanya Habib (16 tahun), satu Zaid (23 tahun). Keduanya tengah menempuh pendidikan di Turki. Habib masih bersekolah di tingkat SMA, sementara Zaid sudah semester 6 di perguruan tinggi. 

Keduanya masih sangat muda namun sigap membantu apa saja kebutuhan tim kemanusiaan sebelum bertolak ke lokasi bencana. 

Saat di Indonesia kami juga berkomunikasi dengan Ketua Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Turki, Syafiq. Rekomendasi dari KBRI di Ankara, PPI Turki siap membantu semua elemen relawan Indonesia untuk menjadi penerjemah dan membantu kebutuhan di lapangan.

Respons PPI Turki sangat cepat. Kami diberikan kontak Muhamad Dilvan (21 tahun), mahasiswa Indonesia asal Garut yang akan menjadi pemandu BSMI selama aksi kemanusiaan. Dilvan tengah menempuh pendidikan di Karabük Üniversitesi juruan public relation.

Dilvan tak kalah semangat dengan relawan-relawan muda Indonesia yang ada di Turki. Ia harus menempuh enam jam perjalanan dari kota tempat tinggal di Karabük menuju Istanbul untuk bertemu dengan kami. 

Memang setelah terjadi gempa, asrama-asrama di kampus difungsikan menjadi tempat pengungsian. Presiden Erdogan juga membuat kebijakan untuk semester ini semua pembelajaran dilakukan secara daring. 

Akhirnya, banyak teman-teman PPI yang secara sukarela mendaftar menjadi relawan pendamping. Sebagai penerjemah maupun sebagai guide. Ada sekitar 80 orang teman-teman PPI yang bergabung menjadi relawan pendamping. 

Mereka dikumpulkan dalam satu grup WhatsApp lalu dikomandoi oleh pengurus PPI Turki. Ketika ada permintaan masuk dari Indonesia, PPI Turki lalu mendistribusikan tugas tersebut ke mahasiswa Indonesia yang sudah mendaftar. 

Mereka akan mendampingi mulai dari kedatangan hingga kepulangan termasuk informasi semua kebutuhan para relawan Indonesia. Selain mayoritas warga korban gempa hanya bisa berbahasa Turki, jalur transportasi antar kota juga masih jadi kendala terutama jalan rusak hingga perubahan rute menjadi lebih jauh. Sehingga peran relawan-relawan pelajar Indonesia ini sangat vital. 

Selain menjadi pendamping, mereka juga menjadi perwakilan dari lembaga kemanusiaan di Indonesia yang siap menyalurkan bantuan. 

Anak-anak muda ini sejatinya tengah membawa nama Indonesia dalam setiap aksi mereka di Turki. Percayalah, Indonesia tidak akan pernah kekurangan orang-orang baik.

Selamatkan Satu Jiwa, Sambung Seribu Asa

Istanbul, 17 Februari 2023


Hafidz Muftisany
Humas DPN BSMI