BSMI

Usai Dibekali BAPETEN, BSMI Siap Kirimkan Relawan ke Jepang

Kepala BAPETEN Dr. Ir. As Natio Lasman memberikan pembekalan kepada relawan di Kantor Pusat BSMI Jl. Dewi Sartika No. 19 Cililitan Jakarta. Tampak Dr. Basuki Supartono, SpOT, FICS, MARS dan Muhamad Djazuli Ambari, SKM, M.Si serius mendengarkan arahan oleh Kepala BAPETEN. (Foto: Dian)

(Jakarta – BSMI.OR.ID) Lembaga kemanusiaan Bulan Sabit Merah Indonesia (BSMI) telah menyiapkan tim relawan untuk membantu korban gempa dan tsunami Jepang. Keberangkatan para relawan BSMI ke Jepang untuk menyalurkan bantuan uang tunai, obat-obatan dan logistik yang saat ini sangat dibutuhkan bagi warga Jepang. Sebelum keberangkatan ke Jepang, relawan akan dibekali pengetahuan tentang bahaya radiasi nuklir akibat ledakan imstalasi PLTN di Fukushima.

Hal ini disampaikan oleh ketua umum BSMI Muhamad Djazuli Ambari, SKM, M.Si saat pembekalan relawan BSMI untuk mengahadapi ancaman radiasi nuklir di kantor pusat BSMI Jl. Dewi Sartika No. 19 Jakarta, Jumat (18/3). Pembekalan yang disampaikan oleh Kepala Badan Pengawas Tenaga Nuklir (BAPETEN) Dr. Ir. As Natio Lasman, bertujuan agar para relawan yang akan bekerja di daerah yang terkena radiasi nuklir mengetahui cara pencegahan dan dampak yang ditimbulkan jika terkena radiasi.

Tim relawan yang akan diberangkatkan ke Jepang berjumlah 12 orang yang terdiri dari dokter spesialis, tim ahli forensik, dan tim ahli tanggap bencana. Meski pemerintah Jepang memperketat masuknya relawan internasional, BSMI tetap berharap relawannya dapat memasuki daerah bencana untuk melaksanakan tugas kemanusiaan.

Tim relawan BSMI yang ke Jepang yaitu Dr. Basuki Supartono, SpOT, FICS, MARS (spesialis orthopaedi), Dr. Prita Kusumaningsih, SpOG (spesialis obsgyn), Dr. Arief Basuki, SpAn (spesialis anastesi), Dr. Agoes Kooshartoro, SpPD (spesialis penyakit dalam), Dr. Sahudi, SpB (spesialis bedah), Dr. Iwan Aflanie Syaidul Alkaf, SpF (ahli forensik), Amin Kuat Santoso (tim tanggap bencana), Muhamad Djazuli Ambari, SKM, M.Si (tim tanggap bencana), Muhammad Rudi (tim tanggap bencana), Heru Susetyo, SH, LL.M (tim tanggap bencana), M.Si, Syekh Abdul Qodir, S.Sos (tim tanggap bencana), Pardian Sulaiman, S.Sos (tim tanggap bencana).

Hingga saat ini, menurut salah satu sumber resmi di Jepang menyatakan bahwa jumlah korban tewas 5.321 jiwa dan korban yang hilang 9.329 jiwa. Sehingga total korban setelah gempa dahsyat dan tsunami yang meratakan pantai timur laut Jepang mencapai 14.650 jiwa. Selain itu ada 2.383 orang yang luka-luka dan diperkirakan jumlah korban akan terus bertambah. Sedangkan sekitar dua ratus orang di Jepang dipastikan terkena radiasi nuklir.

Sementara itu pada pembekalan relawan di kantor pusat BSMI, As Natio Lasman mengatakan, seseorang dapat terpapar zat radioaktif pada bagian luar tubuh maupun secara internal akibat zat radioaktif masuk saat bernapas, makan, minum, ataupun lewat luka. Masyarakat umum termasuk para relawan, sesuai peraturan internasional, memang tidak boleh terpapar radiasi melebihi rata-rata 1 mSv (milishiver) per tahun, sementara itu, pekerja di kawasan radiasi ditetapkan tidak boleh menerima lebih dari 50mSv per tahun. As Natio Lasman juga menghimbau para relawan yang akan ke Jepang untuk selalu barhati-hati dan mengikuti peraturan yang telah ditetapkan oleh pemerintah Jepang.

Bagi masyarakat yang ingin membantu korban gempa tsunami Jepang, dapat meyalurkan donasinya melalui BSMI ke Bank Syariah Mandiri KCP Cililitan No Rek 116-003355-4 a.n Bulan Sabit Merah Indonesia. [dian]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *