BSMI

Safari Latsar BSMI ke Kantor BASARNAS

BSMI.OR.ID (Jakarta 20/10) –Pekan ini pelatihan bagi peserta latsar bertempat di Kantor BASARNAS di bilangan Kemayoran. Meski begitu, materi dan pemateri yang didapatkan bukan hanya berasal BASARNAS atau hanya tentang SAR melainkan juga materi dari pemateri tamu yakni dr. Gerald Mario dari Depkes yang berbagi tentang manajemen stres paska trauma.

Stres adalah perubahan hidup yang memerlukan penyesuaian, demikian definisi dari dr. Mario yang dipaparkan kepada para peserta. Dan stres, bila mengacu pada definisi tersebut, adalah sesuatu yang selalu terjadi dalam kehidupan. Namun,dengan trauma yang katastropik, stres menjadi dampak yang juga memerlukan penanganan serius.

Penanggulangan stres bisa dengan cara fisik, cara pikiran dan cara lingkungan. Penanganan stres secara fisik misalnya relaksasi dan latihan napas. Dengan cara ini, dr.Mario mengajak peserta bersama mensimulasikan latihan napas yang biasa dilakukan kepada korban bencana. “Prinsipnya, selalu ada harapan untuk tiap stres yang menjadi ujian. Jangan menghindar, tapi hadapi dan selesaikan.” ungkap dr. Mario mengakhiri materi.

Sementara itu, pihak BASARNAS dengan baik hati menerima kedatangan peserta latsar. Disambut oleh Pak Gagah Prakoso yang akrab dipanggil Pak Yoyo sebagai humas teknis dan orang yang paling terdepan dan sering terlihat di tv terkait turunnya BASARNAS dalam banyak bencana yang terjadi di Indonesia. Beliau berbagi banyak hal terakit pemberitaan BASARNAS di media. Mengungkapkan apa yang perlu diluruskan mengenai nama BASARNAS, menjelaskan posisi BASARNAS sebagai lembaga pemerintah non departemen, dan bercerita realita SAR yang terjadi di Indonesia. “SAR adalah Search yang artinya ‘pencarian dan Rescue yang berarti ‘pertolongan’, coba dengan bahasa indonesia akan disingkat menjadi apa? Bapentol,” kelakar Pak Yoyo sambil tertawa. Sejatinya tetapnya penggunaan ‘SAR’ ditengah Badan Nasional merupakan ketentuan internasional selain demi rekognisi lembaga ini dengan standar internasional.

Selain Pak Yoyo, Pak Didi Hamzar dari bagian operasi SAR juga berbagi kepada Latsar. Dengan pembawaan santai, beliau mencairkan suasana dengan candaan ringan namun tetap fokus menyampaikan secara padat mengenai filosofi SAR. “Filosofinya adalah ‘how to search’ dan ‘how to rescue’.Nah, bagaimana melakukan pencarian dan pertolongan? Pertama adalah tentang ‘how to locate’, yakni mengetahui dan mengunci lokasi yang sebenarnya dari bencana yang terjadi. Keakuratan lokasi tentunya sangat penting demi SAR yang efektif. Lalu ‘how to access’, bagaimana mengakses lokasi korban. ‘How to stabilize the victim’, yakni tentang penyelamatan pertama kondisi kritis korban. Dan terakhir ‘how to transport’, memindahkan korban haruslah memiliki prosedur yang benar dan perhitungan yang tepat” jelas Didi, “Kapabilitas khusus bagi tim SAR sejatinya karena yang dihadapi adalah risiko –nyawa manusia.” Tambahnya lagi mengakhiri sesi materi dari BASARNAS.

Memanfaatkan keberadaan lokasi, peserta latsar dengan antusias mengikuti petugas BASARNAS menuju lantai 14 kantor BASARNAS yang menjadi tempat IDMCC –Indonesia Mission Control Center. Di tempat ini, peserta latsar menyimak dengan antusias penjelasan mengenai proses COSPAS-SARSAT. Sistem berteknologi andal dan internasional untuk penerimaan dan penangkapan sinyal alat transportasi yang memudahkan tim SAR melacak lokasi kecelakaan dan nantinya membuat kegiatan SAR menjadi efektif dan meminimalkan jumlah korban. (fha)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *