BSMI

Rekomendasi IDAI Mengenai Kesehatan Anak Akibat Bencana Kabut Asap

 

(Jakarta – BSMI.OR.ID) – Kabut asap semakin merambah beberapa daerah di Indonesia, kian hari kabut asap semakin bertambah pekat. Hal tersebut dapat mempengaruhi kesehatan masyarakat Indonesia terutama anak-anak yang rentan terkena penyakit. Ikatan Dokter Anak Indonesai dalam menangapi permasalah tersebut memberikan beberapa rekomendasi untuk menjaga kesehatan anak dari bencana kabut asap, berikut uraiannya :

Ruangan Bagi Anak

  1. Pajanan asap terhadap saluran napas anak dapat dikurangi dengan cara tetap berada di dalam ruangan dengan jendela dan pintu tertutup, apabila memungkinkan Air conditioner (AC) dihidupkan dalam mode ‘re-circulate’ dengan mengganti filter secara teratur.
  2. Pada periode berkurangnya kepekatan asap, buka ventilasi rumah dan bersihkan rumah dari partikel debu yang sudah sempat menumpuk di dalam rumah.
  3. Hindari aktivitas dalam rumah yang dapat menambah kontaminasi seperti memasak dengan gas/kompor propane, merokok, menyedot debu (jika tidak punya penyedot HEPA filter/sistem sedot terpusat), dan membakar kayu/furnace.
  4. Tambahkan ruangan atau sistem penyaringan udara terpusat untuk menyingkirkan partikel di udara (hindari pembersih udara yang dapat menghasilkan zat berbahaya ke dalam ruangan).
  5. Gunakan pelembab udara (humidifier) atau bernapas lewat kain basah untuk menjaga kelembaban membran mukosa jalan napas anak.
  6. Kurangi aktivitas di luar ruang untuk mengurangi hirupan kontaminan udara, apabila keluar menggunakan mobil, tutup jendela dan ventilasi mobil, pasang AC mobil pada mode re-circulate.
  7. Populasi berisiko tinggi harus segera mencari tempat dengan udara yang bersih, misalnya di rumah, rumah kerabat, atau tempat umum yang berudara lebih bersih yang disediakan.
  8. Penutupan sekolah dan tempat aktifitas perlu dipertimbangkan jika kualitas udara sangat buruk. Namun pada kondisi tertentu, sekolah justru dapat menjadi tempat atau ruangan yang aman untuk anak, serta tempat untuk pemantauan aktivitas anak.

 

Abu Pembakaran

Abu yang terkumpul karena pembakaran dapat menyebabkan iritasi kulit dan saluran napas, sehingga dapat dilakukan langkah-langkah berikut:

  1. anak dihimbau jangan bermain di dekat asap
  2. Gunakan sarung tangan, baju lengan panjang dan celana panjang
  3. Cuci buah dan sayur segar sebelum dimakan
  4. Jangan membuang abu di saluran pembuiangan air, karena akan menyebabkan sumbatan, sebaiknya abu dibuang di tempat sampah.

 

Penggunaan Masker

Masker cat/debu/bedah tidak efektif mencegah terhirupnya atau inhalasi partikel halus di udara bebas. Masker yang menyaring hingga 95% partikel berukuran ≥0.3 um (N95) hanya efektif, apabila dipakai dengan tepat pada wajah. Tersedia pula N99 dan N100, dalam bentuk full face atau half face dengan filter HEPA, namun tidak nyaman saat dipakai. Masker berukuran lebih kecil dari standar sesuai apabila dipakai untuk anak, namun produsen masker tidak menyarankan masker tersebut untuk anak. Bila anak terpapar pajanan asap yang parah hingga memerlukan masker, sedapat mungkin bawa anak ke tempat dengan udara yang lebih bersih. Ganti masker bila sudah kotor, ditandai dengan perubahan warna masker atau bernapas melalui masker terasa menjadi bertambah sulit.

 

Pemberian Obat-obatan

Obat–obat yang dapat diberikan meliputi :

  1. Pemberian antiinflamasi steroid dan pemberian bronkodilator (salbutamol). Pemberian obat–obat tersebut hanya atas indikasi medis oleh dokter dan tidak digunakan untuk jangka panjang.
  2. Pemberian suplementasi oksigen, yang menggunakan kanula nasal, masker, ataupun  oksigen dalam kemasan, baik di dalam maupun di luar lingkungan rumah sakit, seharusnya sesuai dengan indikasi medis oleh dokter, misalnya terdapat pneumonia atau serangan asma berat. Suplementasi oksigen temporer tidak memberikan manfaat yang optimal selama kualitas udara lingkungan masih buruk.

 

Evakuasi

Evakuasi harus mempertimbangkan kadar paparan asap saat dilakukan evakuasi, dibandingkan dengan berdiam di dalam ruangan. Jika dilakukan evakuasi, harus diorganisasi dengan baik untuk menghindari makin panjangnya waktu evakuasi dan meningkatnya paparan asap. Saat pelaksanaan evakuasi, harus disiapkan obat-obatan yang biasa digunakan oleh pasien dan keluarga paling tidak untuk 5 hari. Evakuasi dilakukan ke Penampungan Berudara Bersih (cleaner air shelter), baik berupa tempat – tempat umum seperti sekolah, aula, gedung olahraga, hotel, musholla atau masjid, kantor, gedung serba guna, dan lainnya, yang telah disiapkan untuk dijadikan penampungan berudara bersih. Penampungan berudara bersih tersebut dilengkapi dengan sanitasi yang baik, penyediaan air bersih, sarana pembuangan, dan pengelolaan sampah. Teknologi pembuatan penampungan berudara bersih berdasarkan kemampuan lokal dengan menutup setiap ventilasi dengan plastik dan melengkapi ruangan dengan sistem penyaringan udara seperti air conditioner, air purifier, atau air humidifier.

Untuk anak dengan kebutuhan medis khusus, misalnya suplementasi oksigen, ventilator, dan lainnya, evakuasi dilakukan ke lokasi aman yang memiliki kualitas udara baik. Untuk anak yang telah dievakuasi ke cleaner air shelter namun tidak menunjukkan perbaikan gejala atau bahkan memburuk dalam 5 hari, seharusnya dievakuasi lanjutan ke lokasi yang lebih aman dengan kualitas udara baik.

Kondisi darurat asap dapat menimbulkan stress dan kecemasan pada anak yang bermanifestasi sebagai gelisah, mengeluh sakit, mimpi buruk, regresi, perilaku sulit/ tidak kooperatif, ketakutan, regresi, dan lainnya. Dengan demikian orangtua atau pengasuh sedapat mungkin harus mempertahankan rutinitas keluarga yang biasa dilakukan. Orangtua dapat lebih memberikan perhatian, membantu ekspresi anak misalnya melalui musik/seni/membuat buku harian, memberi pelukan, serta lebih sabar dalam menghadapi tingkah laku anak yang tidak biasa. []

 

Editor: Ria Rahayu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *