BSMI

Perjalanan Tim Misi Peduli Rohingya – Bagian Pertama

BSMI.OR.ID (Yangoon) Tim aju misi BSMI peduli Rohingya yang terdiri dari Muhammad Rudi dan dr. Bambang Edi Susyanto, berangkat pada Sabtu (20/10/2012) pukul 05.00 pagi. Transit di Bandara antar Bangsa Malaysia, tim BSMI sampai di Bandara Yangon pada pukul 13.00. Di sana, tim BSMI disambut tim kemanusiaan yang telah terlebih dulu berada di Yangon. Nantinya beberapa lembaga kemanusiaan yang berbarengan berkunjung ke Myanmar berkoordinasi dalam misi yang bertujuan besar sama.

Berselang dua jam kemudian, tim BSMI menemui  tokoh Rohingya yang berada di Yangon yakni Mr. Zar Far Ahmed yang merupakan CEC Foreign Relation Comitte dari National Democratic Party for Development. Selepas itu, tim BSMI bertolak menuju hotel setempat untuk beristirahat. Kegiatan selanjutnya dilakukan esok hari.

 

Minggu, pagi hingga petang, tim BSMI berkunjung ke kampung-kampung muslim Rohingya di distrik Yangon ditemani oleh Salim –seorang relawan lokal. Salah satu kampung yang dikunjungi hari itu adalah Kampung Tokeyali. Kampung tempat tinggal bagi 800 KK keturunan Rohingya. Di luar Tokeyali, di kampung muslim lainnya terdapat 4000 KK keturunan Rohingya yang berada di distrik Yangon.

Serupa daerah pedalaman, rumah-rumah di kampung Tokeyali (contohnya) hanya merupakan gubuk-gubuk yang terbuat dari gedek/anyaman bambu dan berukuran kecil. Rumah-rumah ini dibangun oleh NGO Muslim Hand, sebuah NGO lokal. Kondisi ekonomi penduduk dan sanitasi memprihatinkan. Listrik yang digunakan bersama, bukan berasal dari pemerintah melainkan swadaya masyarakat berupa generator yang memanfaatkan bahan bakar sekam (kulit padi).

 

Setelah mengunjungi rumah warga di kampung-kampung muslim distrik Yangon, tim BSMI beranjak ke agenda lainnya yakni survei hewan Qurban. Dalam rencana tim misi peduli Rohingya, BSMI akan berqurban dua ekor sapi di sana dengan dana dari Indonesia untuk Rohingya yang diamanahkan melalui BSMI.

Selain itu, tim BSMI mengunjungi Pesantren Tokenyali. Peserta anak didiknya sebagian besar yatim dan ada juga Santri pulang pergi karena masih mempunyai orang tua. Semua santri berjumlah lebih 200 orang. (bersambung)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *