BSMI

Peran BSMI Terhadap Pencegahan Narkoba Di Indonesia

 

Komitmen BSMI turut serta dalam membentengi generasi bangsa dari pengaruh narkoba merupakan bagian dari visi dan misi BSMI. Dalam mewujudkan visi dan misi tersebut bermitra dengan BNN merupakan langkah sangat strategis bagi peran kemanusiaan BSMI.  Oleh karenannya BSMI menyambut baik undangan Deputi Pencegahan Narkoba BNN yang saat ini dipegang oleh bapak DR. Antar MT Sianturi, Ak.,MBA, pada tanggal 14 Desember 2015 di Hotel Kartika Chandra dalam rapat evaluasi kebijakan P4GN, ujar Djazuli, Ketua Umum BSMI.

Hal yang menarik untuk dicermati dalam rapat evaluasi tersebut adalah adanya kegundahan dan kekhawatiran dari BNN bahwa program-program BNN tidak efektif dan tidak berdaya guna dalam mencegah atau menekan munculnya pengguna baru narkoba di Indonesia, menurut Mamuri, salah satu perwakilan BSMI. “BNN mempunyai program-program yang bagus tapi program itu tidak akan jalan efektif tanpa bantuan dari semua fihak kita harus sinergis dan kami terbuka untuk mendengarkan masukan-masukan yang terbaik buat mengendalikan peredaran narkoba di Indonesia” itu yang diungkapkan oleh bapak kepala Deputi Pencegahan di hadapan kami saat rapat kordinasi tersebut.

Kalimat di atas mengingatkan kita pada pasal 64 Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika menyebut secara jelas bahwa dalam rangka pencegahan dan pemberantasan penyalahgunaan dan peredaran gelap narkotika dan prekursor narkotika (P4GN) dibentuklah Badan Narkotika Nasional. Kemudian dipertegas dalam Pasal 70 Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 yang memberikan penjelasan mengenai tugas dan kewenangan Badan Narkotika Nasional diantaranya adalah menyusun dan melaksanakan kebijakan nasional P4GN; memberdayakan masyarakat dalam P4GN (termasuk didalamnya adalah membentuk satgas, relawan maupun kader); serta memantau, mengarahkan dan meningkatkan kegiatan masyarakat dalam rangka P4GN.

Atas dasar inilah  LSM dan lembaga-lembaga non pemerintah lainnya termasuk BSMI dikumpulkan untuk diberdayakan, dipantau dan diarahkan dalam satu komando BNN dalam rangka bersama-sama memerangi. Hubungan yang sinergis antara BNN, LSM dan lembaga-lembaga non pemerintah sangat dibutuhkan karena Narkoba adalah musuh kita bersama dan perlu ditanggulangi bersama-sama.

Untuk menyamakan persepsi bersama perlu kita ketahui, bahwa narkoba adalah zat kimia yang dapat mengubah keadaan psikologi seperti perasaan, pikiran, suasana hati serta perilaku jika masuk ke dalam tubuh manusia baik dengan cara dimakan, diminum, dihirup, suntik, intravena, dan lain sebagainya.

Narkoba dapat digolongkan menjadi 3 (tiga) golongan, yaitu:

  1. Narkotika – untuk menurunkan kesadaran atau rasa.
  2. Psikotropika – mempengaruhi psikis dan pengaruh selektif susunan syaraf pusat otak
  3. Obat atau zat berbahaya

Dari segi efek dan dampak yang ditimbulkan pada para pemakai narkoba dapat dibedakan menjadi 3 (tiga) golongan /jenis:

  1. Upper

Upper adalah jenis narkoba yang membuat si pemakai menjadi aktif seperti sabu – sabu, ekstasi dan amfetamin.

  1. Downer

Downer adalah golongan narkoba yang dapat membuat orang yang memakai jenis narkoba itu jadi tenang dengan sifatnya yang menenangkan / sedatif seperti obat tidur (hipnotik) dan obat anti rasa cemas.

  1. Halusinogen

Halusinogen adalah napza yang beracun karena lebih menonjol sifat racunnya dibandingkan dengan kegunaan medis.

 

Masalah penyalahgunaan narkoba merupakan masalah yang menyangkut seluruh aspek kehidupan manusia, baik fisik, biologik, psikologik, dan sosial. Mengingat dampak penyalahgunaan narkoba yang sangat merugikan, mencakup kematian dini, kecacatan fisik, dan kerugian sosial ekonomi masyarakat, maka sangat diperlukan tindakan pencegahan penyalahgunaan narkoba tersebut. Upaya pencegahan dapat mencakup pencegahan primer (untuk tidak mencoba narkoba), pencegahan sekunder (mencegah bagi mereka yang telah memakai narkoba untuk tidak menjadi adiksi) dan pencegahan tersier (melakukan pemulihan bagi mereka yang telah mengalami adiksi). Telah dikenali pula bahwa penyalahgunaan narkoba dimulai rata-rata di usia remaja dan berlanjut pada dewasa muda. Pada umumnya anak remaja akhir dan dewasa muda akan berkegiatan diseputar sekolah atau tempat kerja. Salah satu tempat sekolah adalah universitas.

 

Kondisi Indonesia saat ini adalah Darurat Narkoba, hal inilah yang memaksa semua pihak untuk turut bergerak dalam upaya Pencegahan dan Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkoba (P4GN) di Indonesia. Tak hanya pemerintah, pihak swasta, ormas dan lembaga – lembaga non formalpun dilibatkan tak terkecuali BSMI.

 

Sebagai gambaran kenapa BSMI sangat perhatian dengan masalah narkoba di Indonesai, maka kami BSMI mengajak kita semua untuk sama-sama memperhatikan, bahwa jumlah pengguna narkoba di Indonesia terus meningkat. Berdasarkan Laporan Akhir Survei Nasional Perkembangan Penyalahgunaan Narkoba tahun anggaran 2014,  jumlah penyalahguna narkoba diperkirakan ada sebanyak 3,8 juta sampai 4,1 juta orang yang pernah memakai narkoba dalam setahun terakhir (current users) pada kelompok usia 10-59 tahun di tahun 2014 di Indonesia. Jadi, ada sekitar 1 dari 44 sampai 48 orang berusia 10-59 tahun masih atau pernah pakai narkoba pada tahun 2014. Angka tersebut terus meningkat dengan merujuk hasil penelitian yang dilakukan Badan Narkotika Nasional (BNN) dengan Puslitkes UI dan diperkirakan jumlah pengguna narkoba di Indonesia pada Juni 2015 masih 4,2 juta jiwa, berselang lima bulan (sampai dengan November 2015) angka itu meningkat signifikan menjadi 5,9 juta jiwa. Ironisnya, kenaikan 1,7 juta jiwa itu adalah pengguna baru. Jenis narkoba yang paling banyak disalahgunakan adalah ganja, shabu dan ekstasi. Jenis narkoba tersebut sangat terkenal bagi Pelajar/mahasiswa, pekerja, dan rumah tangga. Sebagian besar penyalahgunaan berada pada kelompok coba pakai terutama pada kelompok pekerja. Alasan penggunakan narkoba karena pekerjaan yang berat, kemampuan sosial ekonomi, dan tekanan lingkungan teman kerja merupakan faktor pencetus terjadinya penyalahgunaan narkoba pada kelompok pekerja.

Untuk memperjelas narasi yang kami buat diatas maka kami perjelas masalah yang terkait narkoba di Indonesia adalah :

  1. Dampak negatif narkoba buat bangsa kita karena narkoba sudah menyerang semua level umur dan semua jenis pekerjaan.
  2. Jumlah penggunanya semakin meningkat setiap tahunnya.
  3. Terancamnya generasi muda bangsa ini.
  4. Indonesia sekarang telah menjadi salah satu jalur utama dalam perdagangan obat bius.

Karena masalahnya begitu berat maka kami BSMI berkomitmen untuk meringakan tugas pemerintah khususnya tugas BNN dalam upaya Pencegahan dan Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkoba (P4GN) di Indonesia.

 

BSMI punya beberapa modal untuk memberikan bantuan kepada pemerintah dalam upaya Pencegahan yang masuk dalam program ( P4GN) nya pemerintah misalnya :

  1. BSMI memiliki sumber daya yang memadai yang tersebar di beberapa Propinsi dan kabupaten di seluruh Indonesia. Tercatat BSMI memiliki 11 cabang BSMI yg defenitif dan menyusul ada 5 Cabang Propinsi yang siap mendeklarasikan. Ada 120 Cabang BSMI tingkat Kabupaten diseluruh Indonesia.
  2. BSMI memiliki 23 klinik di bawah Asosiasi Klinik di seluruh Indonesia.
  3. BSMI memiliki 6550 relawan di seluruh Indonesia.
  4. BSMI memiliki jaringan dengan lembaga-lembaga baik formal maupun informal, baik pemerintah maupun swasta, baik Lokal, Regional dan Internasional.
  5. BSMI tiap tahunnya mengadakan Diklatsar buat para relawan baru rata-rata yang mendaftar sekitar 40 – 50 peserta.
  6. BSMI sering memberikan bantuan kemanusiaan baik lokal, regional maupun internasional.
  7. BSMI adalah lembaga kemanusiaan yang netral yang bisa masuk ke semua kalangan masayarakat.

 

Beberapa kegiatan yang sudah dan akan dilakukan oleh BSMI dalam membantu program upaya Pencegahan yang masuk dalam program ( P4GN) adalah :

  1. Lomba Design Poster dan menulis cerpen tentang “ Bahaya Narkoba “ pada bulan juni – juli yang diikuti oleh 57 peserta dari seluruh Indonesia.
  2. Pemberian materi P4GN di Diklatsar relawan BSMI sebagai salah satu sarat kelulusan peserta Diklatsar BSMI.
  3. Mendorong BSMI Cabang dan Klinik yang dibawah asosiasi Klinik BSMI, untuk bekerja sama dengan BNN di wilayahnya masing – masing.
  4. Melakukan sosialisasi P4GN dengan memasang Banner atau membagikan leaflet di sela-sela kunjungan BSMI ke wilayah bencana.
  5. Melaksanakan ToT kepada alumni Diklatsar bekerja sama dengan BNN pusat maupun daerah.
  6. Kunjungan peserta Diklatsar ke kantor BNN pusat untuk mengenal lebih dekat tentang BNN berikut programnya.

 

Upaya-upaya tersebut adalah bentuk perhatian BSMI dengan kondisi bangsa Indonesia yang sedang mengalami darurat narkoba sehingga dapat meringankan tugas Pemerintah dalam dalam upaya Pencegahan dan Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkoba (P4GN) di Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *