BSMI

Laporan BSMI Peduli Rohingya (Bag Kedua)

 

27 oktober 2012

Hari ini 27 oktober adalah hari raya idul qurban bagi muslim Myanmar. Biasanya keluarga2 muslim mulai menyambut Ied sejak malam hari raya dengan makan malam yang berbeda dengan hari lainnya. Semacam pesta. Tahun ini hal itu tidak dilakukan atas fatwa lima pimpinan organisasi islam di Myanmar. Internal hal itu dimaksudkan sebagai bentuk solidaritas atas nasib muslim yang ada di Rakhine namun hal itu juga terkait dengan tak adanya jaminan keamanan bagi muslim untuk merayakan idul kurban. Fatwa kurban itu berlaku utk seluruh negeri.

Sebenarnya kami ingin mencari peluang untuk melakukan kurban di Tokeyali sebuah desa muslim di pinggiran wilayah Yangoon. Kami berfikir bahwa di sana tampaknya masih dimungkinkan kurban di lingkungan tertutup (di sebuah pesantren yatim). Sayang hari ini tidak ada tiket pesawat kembali ke Yangon. Semoga saja ada satu dua tiket cancellan di bandara sehingga ada di antara kami yang bisa melaksanakan kurban di Tokeyali. PKPU sedang mencari alternatif agar kurban dapat dilakukan di Yangon dan daging dikalengkan agar lebih awet.

Situasi darurat ini terjadi menyusul gelombang kedua penyerangan dan pembakaran perkampungan muslim yang meluas ke beberapa township di wilayah Rakhine di luar Sittway. Mahasiswa Budhis juga melakukan demo dengan alasan mereka tidak mau belajar bersama para teroris.

Seorang aktivis muslim menyatakan bahwa yang paling diperlukan bagi muslim Myanmar adalah keadilan. Adapun bantuan yang paling diperlukan muslim yang ada di kamp pengungsi Sittway adalah shelter, pompa air dan sanitasi.

Muslim di Sittway saat ini masih hidup di tenda2 kamp pengungsian akibat serangan kekerasan Budhis setahun yang lalu. Kondisi kamp muslim jauh lebih memprihatinkan daripada kamp Budhis. Budhis menempati shelter2 bantuan UNHCR dan hidup dengan bebas bahkan bisa ikut mengawasi aktivitas kamp muslim. Sementara kamp muslim terbangun atas tenda2 sederhana. Ada 22 kamp pengungsi muslim yang dihuni masing2 kira2 sepuluh ribu orang.

Beberapa lembaga sudah memberikan bantuan shelter seperti dari UNHCR, Islam Hand, Islam Relief, ACT dan PKPU sehingga sebagian kecil muslim sudah pindah dari tenda ke shelter. BSMI memberikan bantuan kepada Depkes Pemerintah Rakhine dan Pengobatan Umum di Pesantren Komunitas Rohingya di Tokeyali.

Pemerintah negara bagian Rakhine menyatakan bahwa mereka tidak membutuhkan bantuan dari luar negeri walaupun sebenarnya kondisi kamp masih memprihatinkan. Namun demikian bantuan masih dimungkinkan untuk diberikan dengan cara mengajukan proposal kegiatan melalui Pemerintah Pusat. Apabila Pemerintah Pusat menyetujui maka Pemerintah negara bagian Rakhine akan menyetujui juga. Pengamanan oleh tentara juga dimintakan ke Pusat. Dengan cara itulah Islam Relief dapat masuk ke kamp muslim.

Perlu juga dipahami bahwa setiap bantuan yang masuk melalui Pemerintah mau tidak mau akan diarahkan ke kedua pihak. Kamp musliim maupun Budhis, tetapi itulah cara yang paling mungkin. Jika tidak maka jangankan memberikan bantuan, akses masuk ke kamp pun sangat sulit. Tamu hanya diijinkan masuk dengan pengawalan wakil pemerintah atau tentara satu kali saja dengan waktu kunjungan yang sangat terbatas. lembaga  yang sudah mengantongi ijin pembangunan shelter pun tidak bisa masuk sewaktu-waktu. kmungkinan kami baru akan kembali ke Indonesia tgl 2 November setelah misi kemanusiaan BSMI berakhir.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *