BSMI

BUKA BERSAMA BSMI-PENGUNGSI SINABUNG

(Berastagi – BSMI.OR.ID) Perjalanan ke Brastagi yang berjarak 64 kilometer dari Medan ternyata harus ditempuh dalam waktu 2 jam. Ini dikarenakan jalanan yang tak terlalu lebar, terkadang macet, mirip perjalanan ke Puncak.

Mendekati lokasi, hawa semakin terasa sejuk. Pemandangan indah layaknya kota wisata, tidak bisa kami nikmati karena hujan abu yang turun sehari sebelumnya, membuat segalanya jadi berbalut lapisan putih. Rumah, pohon, bunga, kendaraan tepi jalan, semuanya berwarna putih.

“Pakai maskernya, ya. Jangan lupa. Abu ini bisa membuat Silikosis,”kata ketua BSMI Sumut dr Nuryunita, mengingatkan. Kami maklum krena beliau adalah dokter spesialis paru. Ia juga sering turun langsung menangani keluhan para pengungsi terkait gangguan pernapasan yang mereka derita.

Kami menjalankan shalat jamak Zuhur dan Ashar di Masjid Al- Istihrar. Sejak musibah Sinabung, kondisi masjid cukup memprihatinkan. Jamaah masjid sepi. Kubah masjid, halaman, dan pepohonan disekitarnya, diselimuti debu putih.

Pada tahun 2013, masjid ini menjadi tempat penampungan para pengungsi Gunung Sinabung karena lokasinya yang aman dari jangkauan debu. Namun saat ini ditinggalkan karena arah hujan abu menuju kawasan ini.

Warga Sinabung perlu dido’akan agar senantiasa diberikan kesabaran dan kekuatan iman. Mengingat erupsi Gunung Sinabung sudah memasuki tahun ketiga. Sejak musibah itu, warga Sinabung mengungsi dengan tempat tingggal yang tak menentu. Sebagian besar warga memang sudah menerima dana untuk mengontrak rumah baru, namun kondisi hidup mereka belumlah normal. Karena usaha perkebunan sebagai sumber nafkah tetap mereka, belum dapat berjalan normal.

Sejak erupsi Gunung Sinabung terjadi tiga tahun lalu, relawan BSMI Sumut memberikan layanan kepada para pengungsi. Yang meliputi pelayanan kesehatan, bantuan alat sekolah dan sembako, sampai ke pelayanan trauma healing.

Di Jambur Korpri, Minggu (28/6), tempat dilaksanakan kegiatan, para pengungsi terlihat telah siap menunggu. Pelayanan kesehatan di gelar sebelum acara berbuka bersama. Tak memakan waktu lama, sebuah tenda warna putih telah disulap jadi ruang periksa. Tak jauh dari situ, para relawan farmasi menata obat-obatan. Sebagian relawan lainnya terlihat sibuk mendata warga yang akan berobat.

Di samping keluhan umum, seperti sakit kulit, gangguan pernapasan dan keluhan mata, beberapa orang ditemukan mengalami peningkatan tekanan darah. “ Saya sulit tidur, Dok. Sakit kepala, sakit perut,” ujar seorang bapak setengah baya. Seorang ibu berusia lima puluh tahunan terdeteksi tekanan darah 180/100 menyimak nasihat dokter.

Di pojok lainnya seorang dokter muda mengamati kulit pasien wanita yang menebal dan terasa pedih. Sementara itu, di Balai Desa (Jambur) mulai ditata persiapan buka puasa bersama. Sekitar 300 paket berbuka puasa disediakan BSMI juga 200 paket kebersihan dan sembako. Paket berbuka, kebersihan dan sembako berasal dari para donatur BSMI, sehingga acara berbuka puasa bersama ini bisa terlaksana.

Menurut prediksi para ahli, bencana alam ini baru akan berakhir di tahun 2020. Tentu saja memerlukan penanganan yang komprehensif. Peningkatan status Sinabung sebagai bencana nasional diharapkan bisa membantu pemerintah menangani pengungsi dan seluruh aspek kehidupannya.

Karena itulah, keberadaan lembaga non-pemerintah seperti BSMI dan yang lainnya di rasakan sebagai bantuan yang sangat berharga. []

Editor: Nin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *