BSMI

BUKA BERSAMA BSMI-PENGUNGSI ROHINGYA

(Aceh – BSMI.OR.ID) Ramadhan benar-benar bulan berkah. Tak sekadar mencerminkan kesalehan pribadi, bulan penuh ampunan ini juga membentuk kesalehan sosial. Berbuka bersama saat Ramadhan tidak sekedar mempererat tali silaturahim antar keluarga atau komunitas, tapi juga antara orang – orang yang sebelumnya belum saling mengenal.

Hal itulah yang dilakukan organisai sosial kemanusiaan Bulan Sabit Merah Indonesia (BSMI). Lembaga yang baru saja memperingati Milad ke -13 ini mengadakan ifthor jama’i (buka puasa bersama) dengan pengungsi Rohingya dan Sinabung. Acaranya diadakan langsung dilokasi penampungan para pengungsi, yaitu di Pelabuhan Kuala Langsa untuk pengungsi Rohingya dan di Jambur Korpri, Kabupaten Karo, untuk pengungsi Sinabung. Panitia pelaksana adalah BSMI Sumatera Utara dan didukung oleh BSMI Kota Langsa.

Memenuhi undangan panitia buka bersama dari relawan BSMI Sumatera Utara dan Langsa, tim BSMI Pusat, yaitu Ketua Umum BSMI Muhamad Djazuli Ambari SKM, MSi, Sekjen BSMI Muhammad Rudi dan Ketua MPA DR.dr.Basuki Supartono SpOT, FICS, MARS dan dr. Prita Kusumaningsih, mengunjungi para pengungsi di penampungan sekaligus berbuka puasa bersama para pengungsi, Sabtu (27/6)

Waktu masih menunjukkan pukul 08.00 WIB tatkala burung besi bermerk Garuda mendarat mulus di landasan Bandara Kualanamu, Medan. Di bulan Ramadhan ini, servis maskapai kebanggaan Indonesia ini, patut diacungi jempol. Untuk menghormati para penumpang yang berpuasa, hidangan makan pagi dikemas dalam kotak cantik dibungkus tas plastik khusus dan dipersilakan dibawa pulang.

Dengan menumpangi empat buah mobil, ditemani relawan BSMI Sumatera Utara, kami bergerak menuju Kota Langsa, Aceh Timur. Perjalanan sejauh 308 kilometer tersebut, Alhamdulillah ditempuh dalam waktu 4 jam. Perjalanan lebih singkat karena tanpa makan siang. Shalat kami tunaikan di Masjid Al- Qadri, yang terletak persis di gapura perbatasan provinsi Sumatra Utara dan Aceh.

Perjalanan dilanjutkan menuju Kota Langsa, tepatnya di kawasan Pelabuhan Kuala Langsa. Di sanalah berkumpul lebih dari seribu orang pengungsi berasal dari Rohingya yang terusir dari tanah kelahirannya di Myanmar. Sebagian kecil pengungsi berasal dari Bangladesh yang memang sengaja keluar dari negerinya untuk mencari kehidupan yang lebih baik.Ada dua buah gudang kosong yang digunakan sebagi tempat istirahat pengungsi laki-laki. Sementara para wanita dan anak-anak yang jumlahnya lebih sedikit berada di barak papan yang sedang dalam masa penyelesaian. Ada satu tenda yang di fungsikan sebagai klinik kesehatan. Tim medis BSMI Sumut dan Langsa berdinas di tenda tersebut bersama dengan tim dari Dinas Kesehatan Pemda setempat.

“Setiap harinyabisa sampai 70 orang yang berobat kesini,” tutur Wahyu, Ketua BSMI Langsa. “Saat ini kami sedang mengadakan pemeriksaan golongan darah bagi seluruh pengungsi, dibantu oleh BSMI Sumut,” lanjut relawan yang kesehariannya bekerja di Bappeda Langsa itu.

Di dalam tenda, kami berjumpa seorang anak muda dengan tungkai yang dibalut gips. Don, namanya. Pemuda berusia 17 tahun asal Bangladesh ini patah kaki saat meloncat dari kapal. Dengan Bahasa Inggris yang terpatah – patah, ia berusaha menjelaskan kejadiannya.

Persoalan bahasa menjadi kendala, terutama di saat awal kedatangan mereka. Namun saat ini sudah bisa teratasi. Karena ada Hasan yang Bahasa Inggrisnya lumayan lancar. Terlebih lagi, ia pernah menimba ilmu di Bangladesh. Karenanya, tak heran jika pemuda 20 tahun ini sering mondar – mandir sebagai penterjemah.

Masuk ke ruang penginapan, suasana tampak berantakan, benar-benar khas penampungan pengungsi. Kami berjumpa dengan Roshid, 48 tahun, bapak 7 anak dari Rakhine, Myanmar. Ia dapat berbicara menggunakan Bahasa Melayu karena bekerja di Malaysia.

“Kalau tak ada orang Aceh, mungkin tak seorangpun dari kami yang masih hidup,”kata Roshid, menerawang. Mereka berterima kasih kepada nelayan Aceh karena telah ditolong saat kapalnya kandas. Kepada kami, ia pun menunjukkan sertifikat yang dikeluarkan oleh UNHCR yang menyatakan dirinya adalah pengungsi dan akan ditempatkan di negara mana saja yang bersedia menampung mereka.

Dengan raut muka sedih Roshid pun bercerita bahwa istri dan 3 anaknya masih tinggal di Myanmar. Mereka meninggalkan negeri kelahiran mereka dengan harapan dapat menjalani hidup lebih baik.

Roshid bercerita, ia meninggalkan istri dan 3 anaknya karena tidak mampu membayar 5000 ringgit per orang ke tauke untuk bisa menumpang kapal. “Uang saya tidak cukup,” kata Roshid, sedih bila mengingat istri dan 3 orang anaknya.

Berbeda di tempat-tempat lainnya. Di- pengungsian Langsa, berbuka puasa di tandai dengan bunyi sirine. Sekitar seribu orang duduk berderet–deret di tenda besar, mulai menyantap hidangan yang disediakan. Di antaranya kurma, es sirup mentimun, mie aceh dan gorengan yang disediakan dalam wadah plastik.

Azan Maghrib segera dikumandangkan usai menyantap hidangan buka puasa. Sekejap, tempat berbuka telah rapi beralas sajadah. Shalat aghrib berjamaah pun segera dilaksanakan. Entah mengapa rongga dadaku terasa lapang. Rasa senang dan pilu membaur membalut hatiku.

. Saat ini, pemerintah daerah berada di simpang jalan. Antara rasa kemanusiaan dan status hukum para imigran tersebut. Dengan memegang sertifikat UNHCR, seharusnya segala hajat hidup mereka selama di penampungan menjadi tanggung jawab PBB. Karena itulah, keberadaan lembaga non-pemerintah seperti BSMI dan yang lainnya di rasakan sebagai bantuan yang sangat berharga. []

Editor: Nin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *