BSMI

BSMI Gelar Pelatihan RS Lapangan

 

(Jakarta – BSMI.OR.ID) Kesiapsiagaan merupakan salah satu unsur penting dalam upaya penanggulangan bencana dan sebuah langkah antisipasi yang dilakukan untuk mengurangi dampak kejadian bencana. Upaya kesiapsiagaan, salah satunya dengan kegiatan penyegaran pengetahuan/keterampilan yang dimiliki oleh SDM medis.  Idealnya SDM tersebut dapat mengoperasionalisasikan sarana dan prasarana pendukung penanggulangan bencana yaitu Rumah Sakit Lapangan.

Oleh karena itu, untuk meningkatkan kompetensi relawan di bidang RSL, Bulan Sabit Merah Indonesia (BSMI) mengadakan manajemen rumah sakit lapangan (RSL) di di Aula RSU Al Fauzan (Jakarta Islamic Hospital), Jakarta, Kamis (10/11). Pelatihan yang juga untuk memperingati Hari Pahlawan yang jatuh 10 November yang diikuti oleh puluhan oleh relawan serta petugas medis dari beberapa RS di Jakarta Timur. Dr. Wolfgang Titius, senior ahli asal Jerman sebagai pamateri memberikan seluk beluk pengetahuan dan pengalamannya selama berkecimpung di bidang kebencanaan.

Tujuan dari pelatihan ini yakni untuk memberikan kemampuan dan keterampilan kepada relawan dan petugas medis tentang A-Z nya RSL saat bencana. Dr. Titius menjelaskan kepada peserta pelatihan berupa urgensi pengadaan RSL, keuntungan membuat RSL, tipe-tipe RSL, menyiapkan pendirian hingga maintenance RSL.  “Meski berbeda dengan bangunan RS seperti umumnya, RSL juga harus memperhatikan seterilisasi dan hiygienitas alat-alat perlengkapan medis. Ini merupakan bentuk upaya memastikan keselamatan pasien selama di rawat di RSL,” kata dr. Titius yang merupakan pensiunan salah satu direktur RS di Jerman.

RSL merupakan fasilitas pelayanan kesehatan yang disiapkan untuk mendekatkan pelayanan kesehatan pada korban bencana. Keberhasilan pelayanan kesehatan pada rumah sakit lapangan sangat bergantung pada bagaimana pengelolaan yang dilakukan baik pada tahap persiapan, pelaksanaan, maupun pascapemanfaatannya. Oleh sebab itu pendirian rumah sakit lapangan membutuhkan sumber daya manusia yang terampil, cekatan, cepat dan terlatih untuk dapat mengoperasionalisasikan seluruh peralatan RSL.

Sementara itu, Titius menjelaskan, dia sudah tertarik dengan dunia kebencanaan sejak 1991. Ketika gempa besar Iran, Titius pun turut berkontribusi sebagai doter ahi bedah untuk menangani para pasien korban bencana. Ketika itu, dia menjelaskan ada sekitar seratus ribu pengungsi. Titius juga sempat terbang ke berbagai negara berkonflik untuk membantu pengungsi seperti Kosovo dan Haiti. Dalam dua thun terakhir, dia menangani pengungsi di Kazakhstan, Uzbekistan dan Namibia.

Selama menangani bencana, Titius menjelaskan, dia ikut mengembangkan RSL baik model kontainer dan model tenda. “Dua-duanya ada kelebihan dan kekarangan,” kata dia di tempat yang sama. Pria asii asal Bremen ini mencontohkan, untuk RSL kontainer memang dapat menampung alat-alat medis yang canggih untuk bedah dan sebagainya. Namun RSL jenis ini sulit untuk dibawa masuk ke daerh bencana. Berbeda dengan RSL tenda yang bisa lebih mudah diangkut. “Hanya RSL tenda beresiko untuk keamanan pasien,” katanya.[]

 

Sumber Berita: Pardian Sulaiman

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *