BSMI

Tingkatkan Pengetahuan Relawan di Bali, BSMI Gelar Seminar Internasional “Field Hospital Management”

 

(Bali – BSMI.OR.ID) Indonesia merupakan negara rawan bencana baik bencana alam, bencana non-alam dan sosial. Kondisi tersebut dimungkinkan karena letak geografis Indonesia dan kemajemukan sosial serta budaya masyarakatnya. Hampir setiap kejadian bencana menimbulkan permasalahan kesehatan.

Selain itu bencana sering pula menyebabkan kerusakan infrastruktur, gedung dan bangunan publik termasuk fasilitas kesehatan (sumber: depkes.go.id). Hal ini menjadi latar belakang diselenggarakannya International Seminar of Field Hospital Management oleh Bulan Sabit Merah Indonesia (BSMI) Provinsi Bali di Aula Gedung Keuangan I, Denpasar (19/11).

Acara yang bertajuk seminar kesehatan menghadirkan senior ahli asal Jerman, Dr. Med. Wolfgang Titius MBA, sebagai pemateri yang menyampaikan seluk-beluk pembuatan Rumah Sakit Lapangan (RSL) serta berbagi pengalaman selama beliau aktif di bidang kebencanaan.

Acara ini di buka secara resmi oleh Ketua BSMI Provinsi Bali, Bambang Widjanarko. Hadir pula Ketua Dewan Pimpinan Nasional BSMI, Muhamad Djazuli Ambari, serta undangan dan peserta dari Dinas Kesehatan Provinsi Bali, Kabid Dokkes Polda Bali, Senkom Mitra Polri Bali, Sai Rescue Bali, Relindo Bali, Korps Menwa Ugracena Bali, LPPM Muhammadiyah Bali, DSM Bali, serta Lazis PLN Bali.

RSL merupakan unit pelayanan yang diciptakan untuk membantu fungsi pelayanan kesehatan rujukan yang dilaksanakan dalam kondisi darurat. Tujuan dari acara ini yaitu untuk meningkatkan pengetahuan / keterampilan dalam hal pendirian RSL dan kesiapsiagaan penanggulangan bencana bagi relawan dan petugas medis di Bali.

Dr. Wolfgang Titius menjelaskan beberapa hal penting yang perlu diketahui berkaitan tentang pendirian RSL, meliputi tipe-tipe RSL beserta keuntungan dan kerugiannya, bagaiaman pengorganisasian dan perencanaan pendirian RSL, hingga maintenance, quality control, reporting system, serta hygiene management RSL.

Menurut Dr. Woflgang Titius ada 2 tipe RSL yaitu model kontainer dan model tenda. Dua model tersebut memiliki kelebihan dan kekurangan. “RSL tipe kontainer dapat menampung alat-alat medis lengkap namun berukuran relatif lebih besar dan berat, sehingga sulit untuk dibawa masuk ke daerah terpencil. Berbeda dengan RSL tipe tenda yang berukuran lebih kecil dan mudah di bawa ke lokasi bencana, namun kelemahannya adalah alat-alat medis harus dibawa secara terpisah.

Untuk memaksimalkan hasilnya bisa mengkombinasikan kedua tipe tersebut, dengan mempertimbangan lokasi dan medan tempat bencana”, jelasnya. “Untuk daerah-daerah di Indonesia, jenis RSL yang paling cocok adalah model tenda, mengingat banyak daerah terpencil dan jauh dari pusat kota. Hal ini akan lebih memudahkan dalam hal pendistribusian ke daerah terpencil”, imbuhnya.

Dalam pengorganisasian, RSL terdiri dari bagian-bagian yang saling bekerja sama di dalam memberikan pelayanan medik dasar dan spesialistik baik untuk perorangan maupun kelompok korban bencana. Menurut Dr. Wolfgang Titius, RSL yang baik diharapkan mampu mengembalikan fungsi rumah sakit sebagai pusat rujukan korban pada situasi bencana. Mulai dari tenaga medis dan non-medis, obat dan perbekalan kesehatan, serta alat medis dan alat penunjang medis harus dimobilisasi dan diatur sedemikian rupa sehingga dapat menjalankan fungsinya dengan baik.

“Setiap anggota tim wajib dibekali pengetahuan tentang prosedur tindakan RSL di lingkungan bencana yang sudah tentu berbeda dari lingkungan rumah sakit pada umumnya, mulai dari sterilisasi, mobilisasi, higienitas, dan sebagainya”, katanya.

Keberhasilan pelayanan kesehatan pada RSL sangat bergantung pada bagaimana pengelolaan yang dilakukan baik pada tahap persiapan, pelaksanaan dan pasca-pemanfaatannya. Mengingat kekhususan dan kompleksitas pengelolaan RSL pada situasi bencana, maka dibutuhkan sumber daya manusia yang terampil dan terlatih serta sistem magement yang baik untuk mengelola RSL tersebut.

“Diharapkan BSMI dapat bekerjasama dengan pihak-pihak terkait serta pemerintah dalam pengelolaan RSL di lokasi bencana  untuk memenuhi kriteria RSL misalnya tenaga medis (dokter dan perawat), tenaga non-medis, pengadaan ruang operasi, unit gawat darurat, ruang rawat inap, laboratorium, farmasi, dan pengadaan asupan makanan yang memadai bagi korban bencana. Dengan demikian, pelayanan kesehatan bagi korban bencana melalui RSL menjadi lebih baik, efektif, dan efisien”, pungkas Dr. Wolfgang Titius di akhir acara.[]

 

Sumber Berita: Torika Anggi Pradana (Relawan BSMI Bali)

Editor: Pardian Sulaiman

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *