BSMI

BSMI Undang Ahli RS Lapangan Asal Jerman

 

(Jakarta – BSMI.OR.ID)  Bulan Sabit Merah Indonesia (BSMI) mengundang ahli dari Jerman untuk memperkenalkan teknik rumah sakit lapangan (RSL) kepada daerah-daerah bencana di Indonesia. Rencananya, pensiunan direktur RS di Jerman tersebut akan mengunjungi Sinabung, Bali hingga Garut selama sebulan mulai Jumat (11/11).

Sekretaris Jenderal BSMI Muhamad Rudi menjelaskan dr. Wolfgang Titius, ahli tersebut akan mendapatkan seluk-beluk untuk pembuatan RSL sesuai dengan keahlian dia. Menurut Rudi, Titius merupakan seorang dokter bedah yang memiliki pengalaman internasional dalam membuat RSL dan menangani pengungsi. “Dokter Titius akan membagi ilmunya kepada teman-teman BSMI di daerah dan relawan kemanusiaan lainnya,” kata Rudi saat menyambut Titiu di Jakarta, Sabtu (5/11) malam.

Dia juga menjelaskan, Tititus merupakan salah satu angota Senior Experten Services (SES). Organisasi nirlaba bentukan pemerintah Jermah ini menamung para pensiunan untuk membagi ilmu dan kepakaran di berbagai bidang. Tak hanya di dalam Jerman, tetapi juga di luar negeri. Karena itu, kata dia, biaya jasa Titius sepenuhnya ditanggung SES. Sementara, BSMI hanya menaggung biaya operasional dan akomodasi selama di Indoneia.

Sementara itu, Titius mnejelaskan, dia sudah tertarik dengan dunia kebencanaan sejak 1991. Ketika gempa besar Iran, Titius pun turut berkontribusi sebagai doter ahi bedah untuk menangani para pasien korban bencana. Ketika itu, dia menjelaskan ada sekitar seratus ribu pengungsi. Titius juga sempat terbang ke berbagai negara berkonflik untuk membantu pengungsi seperti Kosovo dan Haiti. Dalam dua thun terakhir, dia menangani pengungsi di Kazakhstan, Uzbekistan dan Namibia.

Selama menangani bencana, Titius menjelaskan, dia ikut mengembangkan RSL baik model kontainer dan model tenda. “Dua-duanya ada kelebihan dan kekarangan,” kata dia di tempat yang sama. Pria asii asal Bremen ini mencontohkan, untuk RSL kontainer memang dapat menampung alat-alat medis yang canggih untuk bedah dan sebagainya. Namun RSL jenis ini sulit untuk dibawa masuk ke daerh bencana. Berbeda dengan RSL tenda yang bisa lebih mudah diangkut. “Hanya RSL tenda beresiko untuk keamanan pasien,” katanya.

Untuk daerah-daerah di Indonesia yang memiliki resiko bencana, Titius merekomendasikan RSL tenda. Menurut dia banyak daerah di Indonesia yang terpencil dan jauh dari pusat kota. Karena itu RS tenda lebih mudah untuk diangkut ke daerah terpencil. “Karena mudah untuk didistribusikan,” katanya.

Meski demikian, dia mengatakan organisasi kemanusiaan,seperti BSMI dan pemerintah, harus memikirkan perawatan yang layak untuk RSL tenda pada masa depan. Ruang Unit Gawat Darurat (UGD) hingga tempat tidur pasien harus juga sesuai standar. Menurut dia, RSL pun hars memenuhi kriteria seperti adanya laboratorium, ruang anastesi, makanan bagi pasien, dan sebagainya. “Ini memang kompleks, tapi bisa direncanakan selangkah demi selangkah, katanya.[]

 

Sumber Berita: Koran Republika

Editor: Pardian Sulaiman

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *