BSMI

5000 Siswa Pengungsi Sinabung Tetap Bersekolah

UPACARA: Murid Sekolah Dasar (SD) melaksanakan upacara pengibaran bendera merah putih di hari pertama aktivitas belajar mengajar di SD 040482 Desa Gajah, Kecamatan Simpang Empat, Kabupaten Karo, Senin (6/1). Aktivitas Gunung Sinabung tidak menjadi penghalang semangat mereka.//AMINOER RASYID/SUMUT POS

MEDAN — Meneruskan intruksi dari Mendikbud untuk menginventarisir sekolah yang rusak akibat erupsi Gunung Sinabung, Dinas Pendidikan Sumut telah menginventarisir sejumlah sekolah yang terkena efek erupsi Gunung Sinabung untuk dibangun kembali usai erupsi mulai reda.

Kepala Dinas Pendidikan Sumut M Zein telah mendata sedikitnya terdapat 5 sekolah yang rusak. “Keputusan terakhir radius 3 Km direlokasi. Kita bangun baru kalau ditetapkan kawasan yang tidak aman. Sudah ada 5 sekolah yang rusak akibat erupsi,” ujar M Zein, Medan, Kamis (6/2).

Namun ada masalah lain jika relokasi sekolah dilakukan, yakni jarak antara masyarakat dan sekolah akan menjadi semakin jauh. “Masyarakat juga harus siap untuk direlokasi, itu kesempatan bagus untuk membuat kawasan pendidikan terpadu,” tegas Zein.

M Zein menyebutkan bahwa sebelumnya telah melihat langsung beberapa sekolah yang rusak karena terdampak letusan Sinabung. Beberapa sekolah tidak perlu direlokasi, hanya perlu perbaikan meskipun hampir menyeluruh.

“Pokoknya kalau BNPB sudah menyatakan aman, maka disitulah langsung kami bangun. Tidak pakai tahun anggaran, kita pakai dana abadi,” jelas Nuh.

Pihak Dinas Pendidikan Sumut terus melakukan pendataan menyeluruh terkait bangunan sekolah yang rusak karena erupsi Sinabung. Dana untuk renovasi sekolah saat ini sudah tersedia.

“Kita akan renovasi gedungnya dan mengadakan peralatan yang sebelumnya hilang karena terkena bencana. Selain itu, lingkungan sekolah juga harus ditata kembali,” tutur M Zein.

Sementara para siswa yang mengungsi sejauh ini telah berjumlah siswa SD sebanyak 2941, SMP 2041, SMA 764 dan SMK 208.

Para siswa tersebut tetap bersekolah disekolah yang tidak terkena dampak erupsi Sinabung. Siswa tersebut bersekolah dimulai dari siang hari hingga sore hari. Para pengajar dari sekolah tersebut juga diisi oleh para guru asal sekolah mereka.

“Siswa belajar disekolah yang tak terkena efek erupsi Sinabung. Mereka belajar sore harinya,” ujarnya.

Hal tersebut dilakukan agar para siswa tidak ketinggalan pelajaran mengingat waktu ujian akan berlangsung. Dirinya juga cukup optimis berlangsungnya proses belajar mengajar kendati dalam kondisi terkena bencana alam.

“Mudah-mudahan siswa dapat belajar sebaik mungkin,” tandasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *